Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 5-Selesai)
oleh · Dipublikasikan · Di update

Lanjutan… (Esai ini ditulis Oleh: Peringatan Zendrato)
Baca kembali seri 1 Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 1)
Baca kembali seri 2 Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 2)
Baca kembali seri 3 Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 3)
Baca kembali seri 2 Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 4)
Ringkasan
Isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) merupakan isu yang sangat sensitif bagi bangsa Indonesia. Sedikit saja masalah jika dikait-kaitkan dengan SARA akan membuat masalah jadi membesar. Kejadian di beberapa daerah pada tahun 1999 dan memasuki tahun 2000, seperti kerusuhan di Ambon, NTT, NTB, dan di beberapa daerah lainnya bermotifkan isu SARA. Meskipun kejadian itu sudah bertahun-tahun telah terjadi, namun isu SARA masih menjadi isu sensitif bagi bangsa ini.
Aksi demonstrasi yang berselang-seling ini telah memberikan keunikan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Setelah aksi bela agama yang menuntut keadilan Negara menangani kasus Ahok, dibalas lagi dengan aksi bela Ahok yang menuntut pembebasan terhadap Ahok yang telah dipenjarakan 2 tahun penjara. Selama persidangan berlangsung, kedua kubu ini tidak mau absen mengawal proses perjalanan sidang. Sehingga, sampai pada akhir penjatuhan hukuman 2 tahun penjara pada Ahok barulah muncul gerakan bela NKRI.
Kelompok demonstran bela Agama Islam berkeinginan agar Negara bersikap adil dengan menjatuhkan hukuman bagi Ahok karena telah menjadi pemimpin yang menista Agama Islam dan Ulama. Sedangkan kelompok demonstran bela Ahok berkeinginan agar Negara bersikap adil dengan membebaskan Ahok dari segala hukuman karena Ahok tidak bertujuan menista Agama Islam dan Ulama. Dua respon terhadap Ahok ini adalah dari warga DKI Jakarta khususnya, dan Warga Negara Indonesia umumnya, telah menjadi ciri tersendiri dari sejarah aksi demonstrasi di negeri ini pada tahun 2016 dan 2017. Masyarakat Indonesia saat itu terbelah ke dalam tiga kelompok besar, yakni: kelompok demonstran aksi bela Agama Islam yang di dalamnya sebenarnya dimotori oleh lawan politik Ahok, umat yang merasa Agama mereka dinistai oleh Ahok, dan mereka yang membenci gaya (kepemimpinan) Ahok, kemudian ada kelompok pembela Ahok yang di dalamnya sebenarnya dimotori oleh kawan poitik Ahok, para fans Ahok, se-keluarga, se-suku, dan se-agama dengan Ahok, dan kelompok pembela NKRI.

Sumber gambar: Dokumen Pribadi.
Aksi bela agama Islam dan aksi bela Ahok yang pernah terjadi seperti memperebutkan Ahok dari “tangan” Negara. Demonstran aksi bela Islam menginginkan supaya Ahok segera dipenjarakan, sedangkan demonstran bela Ahok menginginkan agar Ahok dibebaskan. Akibatnya Negara menjadi korban. Keutuhan Negara tergoncang ketika dua kelompok saling tidak percaya pada keadilan Negara, baik di dunia nyata maupun di dunia maya orang satu sama lain saling bertengkar mempersoalkan kasus Ahok dan saling menjeboskan lawan ke dalam jeruji besi. Padahal, masuk tidaknya Ahok ke dalam jeruji besi adalah keputusan Negara. Negara Indonesia yang adalah Negara hukum pastinya mengedapankan proses hukum untuk memproses segala sesuatu perkara.
Semua kasus penistaan agama memang tetap ditanggapi dengan demonstrasi. Namun demonstrasi kala itu tidak berlarut-larut seperti demostrasi bela Agama Islam menanggapi kasus Ahok. Aksi demo untuk kasus Ahok bahkan berjilid-jilid dan sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran setiap anggota masyarakat[1].Tidak ada anggota masyarakat yang tidak memihak – meskipun pada akhirnya mereka menyerah dan kembali ke nasionalisme. Setiap orang mencari perbedaan dan persamaan dari dirinya terhadap kelompok yang berkonflik. Setiap orang lupa akan identitas dirinya, yang muncul adalah identitas kelompok[2].
[1] Presiden Joko Widodo melihat Bangsa dan Negara Indonesia yang terkuras waktu, tenaga dan pikirannya melakukan aktivitas yang tidak produktif dengan melakukan aksi demonstrasi membela Agama Islam dan membela Ahok.
[2] Gustave Le Bon menyebutkan bahwa ciri dari gerakan kolektif memiliki efek penularan (contagion) yang sangat cepat; seolah-olah para anggota yang melakukan gerakan tersebut dihipnotis (suggestability); para anggota yang ada di dalamnnya seakan-akan hilang identitas dirinya, yang muncul adalah identitas kelompok (anonymity) (Gustave Le Bon dalam buku “Kerusuhan Sosial di Indonesia [studi kasus Kupang, Mataram, dan Sambas] Grasindo, 2001 hlm 31).
Komentar Terbaru