Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 1)

Dampak Politik Seri 1

Pembelahan Kohesi Sosial Sejak Pilgub DKI Jakarta 2017

Apa yang diperebutkan dari Ahok? Bukankah Ahok orangnya biasa-biasa saja? Punya hidung, punya mata, punya telinga seperti manusia pada umumnya. Tetapi coba lihat dari gayanya berbicara. Ahok sering berbicara lelucon. Tekanan suaranya juga begitu menggelikan. Namun di samping itu semua, Ahok sering berbicara tanpa kontrol (ceplas-ceplos), bahkan, sedikit atau banyak malas tahu kalau orang lain juga bisa tersinggung dengan gayanya seperti itu.

Contohnya saja beberapa pernyataan orang pernah tersinggung oleh karena perkataan Ahok. “Pak Ahok kalau bicara pakai data dong, luas Surabaya itu hampir separuhnya luas DKI, dan itu saya sendiri yang pimpin, … Saya harus ngomong dulu sebelum arek-arek Suroboyo tersinggung, bisa bahaya kalau mereka marah” kata Risma [1]. “Nanti yang rugi Ahok sendiri. Kalau menyinggung, orang NU nggak akan pilih … Semua warga NU tersinggung, malah ada yang emosi,” tegas Saiq Aqil [2].

baca juga:Media Massa dalam Pusaran Informasi Intoleransi dan Kebencian Berbasis Agama

Lucunya, Ahok pun pernah tersinggung. “Kalau tersinggung, ya gue juga tersinggung lu maki-maki gue di lebaran Betawi” kata Ahok[3]. pada saat lebaran betawi[4], Rempug Lutfi Hakim yang adalah Ketua Umum Forum Betawi mengajak warga untuk tidak memilih Ahok. Entah dari mana Ahok mendengar perkataan itu lalu dia tersinggung.

Pada sisi lain, Ahok disenangi banyak orang karena dia sering buat lelucon. Pada saat acara televisi kick andy yang mengundang Ahok sebagai bintang tamu mau ditayangkan, Grup tersebut memuat postingan di Medsos Facebook bahwa acara itu akan ditayangkan jam 20:00 WIB. Pada postingan itu, saya melihat begitu banyak komentar dari warga internet yang mengatakan bahwa mereka senang akan menonton Ahok berbicara lelucon. Salah satu alasannya adalah di setiap perkataan Ahok mengandung lelucon yang menghibur.

Acara kick Andy mengundang Ahok pada masa-masa dia menjalani persidangan[5]. Saat itu juga lagi hebohnya aksi demo yang menuntut Ahok dipenjarakan. Pada postingan tersebut saya melihat banyak komentar yang berpandangan buruk terhadap channel Metro TV. Ada yang menduga-duga mungkin ada unsur politik makanya Ahok diundang di acara itu. Akhirnya postingan itu menjadi tempat adu pendapat bagi warga internet.

baca juga: Pemuda di tengah Intoleransi dan Globalisasi

Menjelang akhir tahun 2016 sampai pertengahan tahun 2017, hampir setiap harinya semua media baik di daerah lokal apalagi media nasional menampilkan berita Ahok. Ahok yang mudah membuat orang tersinggung dan juga bisa tersinggung karena tindakan orang lain itu seolah secara tidak langsung membuat banyak orang tidak suka padanya. Namun gaya lelucon yang sering dia lakukan telah membuat banyak orang tertarik padanya.

Selain gayanya yang demikian, kehadiran Ahok di saat bangsa ini krisis pemimpin yang bersih, bebas dari korupsi, adalah hal yang membuat banyak warga DKI Jakarta dan bahkan di luar DKI Jakarta menyukai Ahok. Kemungkinan besar karena kasus korupsi tidak menyentuh, Ahok dipandang sebagai seorang pemimpin yang bebas dari tindakan korupsi, sehingga banyak masyarakat yang – menjadi pembela Ahok – kecewa bila Ahok masuk bui. Perasaan yang demikian telah membangkitkan perjuangan para pembela Ahok. Tak kalah aksi pembelaan mereka kobarkan di setiap persidangan. Malah gerakan prihatin kepada Ahok di akhir dan pasca putusan sidang muncul di seluruh nusantara. Seluruh yang membela menganggap Ahok sebagai sosok pemimpin revolusioner.

baca juga: DEMOKRASI DAN KESEJAHTERAAN KITA

Namun itu semua terbantahkan dengan “serangan” penciptaan image buruk terhadap Ahok, sehingga banyak yang beralih memilih pasangan calon lain saat Pilkada kala itu, dan sampai pada penerbitan buku “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok” setelah dia dipenjarakan. Penciptaan image buruk dalam kompetisi politik pilkada DKI Jakarta telak ketika dikaitkan dengan isu SARA. Ahok yang adalah non-muslim, keturunan Tionghoa, dan keras kepala atau berbicara lepas begitu saja, adalah alasan penolakan Ahok. Sehingga, ini menjadi salah satu penyebab paling terlihat yaitu munculnya demonstrasi.

Aksi demo yang terjadi pada akhir tahun 2016 hingga pertengahan tahun 2017 ini adalah aksi demo yang paling lama. Pendemonstrasi itu seperti berbalas-balasan. Massa pendukung Ahok dengan kompak mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak. Mereka tak hanya meneriakkan yel-yel dukungan kepada Ahok, yang tengah menjalani persidangan. Aksi joget bersama dengan irama lagu daerah juga dilakukan bersama-sama[6].
Demonstran pembela Ahok
sumber: news.detik.com/

[1]Berita diperoleh  dari situs www.TribunTimur.com/Inilah Kata-kata Ahok yang Bikin Tri Risma Tersinggung, Rabu 17 Mei 2017.
[2]Berita diperoleh  dari situs www.Pojoksatu.com/KH Said Aqil Bilang Warga NU Tersinggung, Tak Mau Pilih Ahok Lagi. Jumat 3 Februari 2017
[3] Berita diperoleh  dari situs www.Kompas.com/Ahok Gue Juga Tersinggung Lu Maki-maki Gue di Lebaran Betawi. 16 September 2016.
[4] lebaran betawi ini merupakan acara tahunan yang digelar Bamus Betawi
[5]Sidang perkara penistaan agama yang dilakukan Ahok saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu, 27 September 2016
[6]Berita diperoleh dari situs http://www.news.detik.com dan http://www.metrotvnews.com

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!