Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 2)
oleh · Dipublikasikan · Di update

Lanjutan… (Esai ini ditulis Oleh: Peringatan Zendrato)
Baca kembali seri 1 Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 1)
Sedangkan dari kubu kontra atau mereka yang mendorong Ahok agar dipenjarakan didominasi oleh ormas yang mengenakan pakaian berwarna putih. Mereka datang dari Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) dan Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, GNPF-MUI, Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana, FPI, Mereka membawa attribut berupa bendera yang bertuliskan ‘Parmusi’ dan ‘API’, serta atribut lainnya[1].

sumber : news.detik.com/
Di Media Sosial juga tidak kalah hebohnya (akan dibahas di bagian berikut). Dua kubu, pembela Ahok dan pembela Islam saling menunggu siapa yang duluan mengganggu dengan memuat status yang menyindir, akan saling berbalas-balasan kemudian. Satu sama lain saling tertawa, saling menyindir, saling menyalahkan.Dari umur remaja sampai orang tua didapati di sana. Semua yang ikut demo di medsos ini bebas mengkritisi pemerintah dan juga bebas mengkritisi sesama warga yang dianggap sebagai lawan.
baca juga: Teror Bom dan Pentingnya Moderasi Beragama
Setiap kali diadakan persidangan, dua kubu ini saling beraksi mengawal proses persidangan yang sedang berlangsung. Ada yang mengawal langsung di depan gedung persidangan, ada juga yang mengawal lewat Televisi dan Internet. Kedua kubu bertahan di depan gedung atau didepan televisi sampai informasi persidangan selesai. Begitu terus kondisi masyarakat di seluruh tanah air sejak sidang pertama hingga sidang ke 21.
Jumlah demonstran bela islam lebih banyak dari jumlah demonstran bela Ahok. Jumlah demonstran bela islam bisa mencapai 100 ribu demonstran yang bukan saja warga DKI Jakarta namun dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Semua demonstran ini berbondong-bondong datang ke Ibu Kota Negara Indonesia.
baca juga:Menunggu Teroris Berubah Jadi Batu Setelah Dikutuk
Demonstran bela Ahok menginginkan agar Ahok tidak dipenjarakan.Sedangkan demonstran anti Ahok menginginkan agar Ahok segera dipenjarakan. Demonstran dari kelompok anti AHok mengantisipasi intervensi pemerintah (Joko Widodo)[2].Sedangkan Demonstran dari kelompok bela Ahok mengantisipasi tekanan dari lawan politik Ahok yang sengaja menunggangi aksi demonstrasi bela Agama Islam terhadap keputusan hakim.
Segala macam spanduk, bendera dan orasi yang bertemakan satu yakni Negara harus bersikap adil terhadap Ahok. ada spanduk yang di sana ada gambar Ahok dalam bui. Ada juga spanduk yang di sana tercantum foto Ahok dan tertulis “Save Ahok”. Seperti pada umumnya segala aksesoris demo ini dibuat dengan menarik agar pemerintah memberikan perhatiannya.
Mula-mula para demonstran memulai aksi mereka dengan taat pada aturan perundang-undangan yang berlaku. Namun lama kelamaan lebih agresif bahkan bertindak anarkis. Ini terjadi bila demonstran merasa aspirasi mereka tidak direspon oleh pemerintah. Aksi bela Agama Islam jilid I dan II pernah bersikap demikian. Kericuhan terjadi ketika aparat keamanan meminta para demonstran agar dapat membubarkan diri pada pukul 18.00 WIB, sesuai aturan yang berlaku, namun para demonstran bersikeras untuk tetap bertahan sampai tuntutan mereka dipenuhi.
baca juga:Pemuda di tengah Intoleransi dan Globalisasi
Tidak bisa dipungkiri bahwa selama proses mengadili perkara Ahok terlalu banyak paksaan dari warga Negara dari dua penjuru. Baik tekanan dari aksi bela agama islam maupun bela Ahok sama-sama memberikan tekanan pada proses hukum yang berlangsung saat itu. Aksi demonstrasi yang mencirikan pemaksaan kehendak adalah salah satu indikasinya. Pengrusakan gedung kantor milik Negara, perusakan rumah warga, pembakaran mobil, bentrokan dengan aparat keamanan, dan aksi yang berlarut-larut pastinya tidak dikehendaki oleh seluruh masyarakat luas.

Sumber : Terasbintang.com/

sumber : Tempo.co/
Bila dideskripsikan situasi masyarakat pada masa kasus Ahok, masyarakat terbagi dalam 3 kelompok besar yang digerakkan oleh kelompok-kelompok kecil di dalamnya. Kelompok besar yang sangat terlihat adalah: kelompok pembela Agama Islam, kelompok pembela Ahok, dan kelompok pembela NKRI. Dalam tiga kelompok besar ini sebenarnya dimotori oleh lawan politik Ahok, umat yang merasa Agama mereka dinistai oleh Ahok, dan mereka yang membenci gaya (kepemimpinan) Ahok, kemudian ada kelompok pembela Ahok yang di dalamnya sebenarnya dimotori oleh kawan poitik Ahok para fans Ahok, se-ras, dan se-agama dengan Ahok, dan kelompok pembela NKRI.
[1]Berita diperoleh dari situs http://news.detik.com dan http://www.metrotvnews.com
[2]Perpolitikan di DKI Jakarta pada Pilkada 2017 menggambarkan tiga kubu yang berkontestasi yakni: Kubuh Joko Widodo dan Megawati, Kubuh Susilo Bambang Yudoyono, Kubuh Prabowo Subianto. Joko Widodo dan Megawati mendukung pencalonan Ahok-Djarot, Susilo Bambang Yudoyono mendukung pasangan Agus-Silvy, sedang Prabowo Subianto mendukung pasangan Anies-Sandy.
Komentar Terbaru