Menunggu Teroris Berubah Jadi Batu Setelah Dikutuk
oleh · Dipublikasikan · Di update

- <p>Masih segar dalam ingatan kisah si Malin Kundang yang berubah menjadi batu karena dikutuk ibunya. Memang, sungguh durhaka si Malin Kundang itu, sampai tega tidak mengakui ibu kandungnya sendiri sebagai ibunya. Lahir (keluar) dari mana dia kalau bukan ibu yang mengandungnya selama 9 bulan? Kurang diajar. Anak durhaka itu berubah jadi batu, itu imbalan perbuatannya.</p> <p>Sudah lama mendengar kejadian cerita kutuk mengkutuk itu. Kemarin (28/03/2021), pasca aksi bom bunuh diri di Makasar, kembali lagi saya dihantui kutuk mengkutuk. Kutukan banyak sekali berhamburan di media sosial. Sampai-sampai sang idolaku semua pada mengutuki aksi tersebut. Sungguh durhaka perebut nyawa orang dan mengambil kuasa Tuhan menyabut nyawanya sendiri. </p> <p>“Ini Kode… dengar. Ini benar kode, kawan.” Kata teman saya saat kami duduk dan ngopi di pinggir laut yang telah ditimbun untuk dijadikan taman bermain. Awalnya saya kira dia akan menjelaskan dua orang perempuan yang memberi kode sebelum terjadinya ledakan bom. Ternyata pernyataannya itu menggiring kami berdiskusi tentang bagaimana pertanda seorang yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengutuki saja. </p> <p>Dia bercerita bagaimana neneknya di rumah suka sekali mengutuki cucu cucunya. “Padahal, kata mama ku, dulu waktu nenek masih umur 50an tidak suka mengutuk, kalau dia marah, ya, langsung dia pukul.” Kata teman saya dengan wajah yang penuh kebingungan. </p> <p>Setelah dia mencari tahu mengapa si nenek gemar mengutuki cucu-cucunya, ternyata karena neneknya tidak bisa seperti dulu yang langsung memukuli anak yang nakal. “itu pengakuan nenekku sendiri!” ucapnya. “Nenek mengutuk begini karena kalian bikin nenek marah besar, dan nenek sekarang tidak bisa berlari mengejar kalian, kalin larinya kayak kuda saja!” kata teman saya itu meniru ucapan neneknya.</p> <p>“trus, di antara kalian cucu-cucunya ada yang sudah berubah jadi batu nggak?” tanya saya. “maksudnya gimana? Kok sampai ke batu-batu segala?” tanya dia kembali ke saya. “ya, seperti kisah si Malin Kundang itu loh bro?” tanya saya mengingatkan dia kisah si Malin Kundang. “oh itu maksudmu… kalau berubah jadi batu, ya nggak ada, Cuma tidak senang saja dikutuki terus.” Jawabnya. “makanya kalian harus jadi cucu-cucu yang baik, rajin beribadah, nurut orang tua, kakek, nenek.” Kata saya sambil berdiri di hadapannya layaknya pemimpin umat sedang menceramahi umatnya.</p> <p>Ternyata kutukan tidak membawa perubahan. Kutukan keluar dari mulut karena tindakan yang dihadapi itu melebihi kendali sang pengutuk. Kutukan juga sering dipakai untuk menghadapi perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Singkatnya, kutukan tidak menguras pikiran rasional untuk menyelesaikan masalah. Sampai detik ini saya menunggu berita tentang terkutuknya para teroris yang masih bergentayangan itu berubah menjadi batu seperti nasib si Malin Kundang.***</p>
Komentar Terbaru