Mendorong Pendidikan Karakter di Keluarga
oleh · Dipublikasikan · Di update

Anak-anak didik kita sering terlibat tawuran, pelecehan seksual, pengedar dan pemakai obat-obat terlarang, kasus miras, serta kejahatan-kejahatan lainnya. Fenomena-fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dan Right to Education Index (RTEI) terkait macam-macam kejahatan di sekolah. Ironisnya kita malah kehabisan akal, dan hanya bisa pasrah menerima bencana tersebut. Seandainya ini virus, virus ini telah merajalela dan menyebar ke hampir semua anak-anak kita. Akhirnya, tiga pemeran dalam pendidikan anak, yakni sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat masuk ke fase “koma”.
Tidak Sebatas Status Sosial Ekonomi
Masalah yang sekarang sering dijadikan alasan penyebab orang tua tidak mampu memberikan pendidikan (karakter) bagi si anak adalah kondisi sosial ekonomi keluarga yang serba terbelakang. Ada anak didik yang berasal dari keluarga kaya dan ada juga anak didik yang berasal dari keluarga miskin. Ada anak didik yang berasal dari keluarga utuh dan ada pula anak didik yang bersal dari keluarga hancur oleh karena perceraian. Dua keadaan ini yang dipandang menjadi penyebab paling berpengaruh terhadap efektif tidaknya peran keluarga dalam pendidikan anak.
Bagaimana kita bisa menjamin orang tua yang belum pernah menginjak lingkungan sekolah dan melek huruf dan angka mampu menemani anaknya membaca huruf dan angka di saat anaknya di rumah? Bagaimana orang tua mampu meluangkan waktu untuk bertatap muka dengan anaknya sementara mereka sibuk mencari nafkah, pergi pagi hari dan pulang pada malam hari?
Keluarga kaya dengan gampang menciptakan kondisi rumah yang ramah belajar. Sarana dan prasarana belajar bagi anak mampu mereka sediakan. Tetapi bagaimana dengan keluarga miskin yang tinggal di pedalaman, di sana listrik tidak ada dan orang tua tidak dapat memberikan ruang belajar yang nyaman? Belum lagi mempersoalkan kecukupan gizi si anak.
Alasan ini memang wajib dipikirkan dan dicarikan solusinya. Namun nyatanya status sosial ekonomi keluarga tidak terlalu berpengaruh pada efektif tidaknya pendidikan karakter si anak. Nyatanya, anak yang berasal dari keluarga kaya serta orang tuanya berpendidikan tidak sedikit kita temukan nakal. Begitu juga tidak sedikit kita temukan anak yang berasal dari keluarga miskin berkelakuan nakal atau sebaliknya. Bagi penulis, sebenarnya akar masalahnya adalah nilai-nilai etika itu tidak di-budaya-kan orang tua bagi si anak.
Mengintegrasikan dengan Pendidikan Karakter
Lalu bagaimana me-budaya-kan nilai-nilai etika bagi si anak? Caranya dengan membuat pola pendidikan karakter, yakni me-integrasi-kan pendidikan nilai-nilai dengan peran-peran keluarga secara berkesinambungan dari sejak balita sampai si anak dewasa.
Me-integrasi-kan pendidikan (karakter) nilai-nilai dengan peran-peran keluarga dalam pendidikan anak yaitu misalnya: pertama, me-integrasi-kan dengan motivasi anak. Orang tua diharuskan memberi dorongan bagi si anak agar lebih giat belajar. Tujuan memperoleh pengetahuan adalah untuk berbagi kepada sesama, bukan untuk diri sendiri. Tujuan memperoleh pengetahuan adalah untuk membantu sesama, bukan untuk menyusahkan sesama. Sejak kecilnya si anak diajari betapa pentingnya berbuat baik terhadap orang tua dan sesama teman.
Kedua, me-integrasi-kan dengan fungsi dan manfaat sarana dan prasaran belajar di rumah. Menyediakan sarana dan prasarana belajar bagi si anak adalah tanggung jawab orang tua. Namun tidak sesekali memberikan sarana pendidikan yang merubah karakter si anak menjadi buruk. Tersedianya akses jaringan internet di rumah salah satu sarana yang rentan disalahgunakan oleh si anak dan rentan penyebaran kejahatan. Oleh karena itu si anak harus diajari cara menggunakan internet untuk tujuan yang baik.
Ketiga, me-integrasi-kan dengan kegiatan di luar jam belajar. Orang tua harus mampu memantau perkembangan si anak. Kegiatan kerohanian di luar jam belajar dapat membentuk karakter anak. Ajaran-ajaran agama mampu menghindari si anak dari ajaran-ajaran radikalisme. Anak pun harus dihindari dari tayangan televisi yang berbau pornografi dan tayangan televisi yang berbau kejahatan lainnya. Ada saatnya orang tua harus mengajarkan anak pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas agar anak tidak penasaran dan meniru kejahatan seks.
Setiapa keluarga bisa mengembangkan pola pendidikan karakter yang lebih inklusif lagi. Intinya, orang tua harus tahu bahwa tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan nilai.
Pola Pendidikan Karakter yang Berkesinambungan
Menciptakan manusia yang berkarakter baik sangatlah sulit. Terlebih lagi bila kita ingin merubah karakter anak-anak yang sudah dewasa umur, sebab mereka cenderung “keras kepala”. Oleh sebab itu, menciptakan dan mecita-citakan manusia yang berkarakter baik adalah menanamkan nilai-nilai yang sesuai dengan norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma hukum dari sejak mereka balita.
Bila pendidikan karakter sebagai proses pemberian tuntunan kepada anak untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter baik; pendidikan nilai; pendidikan moral; pendidikan budi pekerti; pendidikan watak. Maka pola didik karakter merupakan adonan penciptaan manusia yang berkarakter. Bila adonan rusak, maka produknya tidak sempurna atau tidak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu adonan ini harus dijaga sedemikian rupa dari segala serangan nilai-nilai kejahatan.
Utuh tidaknya sebuah adonan pendidikan karakter di keluarga tergantung pada serius tidaknya orang tua si anak, apa ingin mencita-citakan anak yang berkarakter baik atau sebaliknya. Adonan pendidikan karakter keluarga tidak hanya bertahan sampai anak berumur dewasa. Salahnya lagi bila orang tua mengukur kedewasaan si anak setelah tamat Sekolah Menengah Atas. Itu sebabnya kita sering menjumpai anak yang sejak kecil dididik mati-matian oleh orang tuanya setelah masuk bangku perkuliahan terjerumus ke pergaulan bebas. Pola pendidikan karakter keluarga haruslah bertahan sampai anak mempunyai pendirian yang tidak tergoyahkan.
Penguatan Peran Keluarga dari Pemerintah
Pola pendidikan karakter di sekolah-sekolah memang cukup efektif membentuk karakter anak. Namun, waktu anak di sekolah sangat singkat, sedangkan waktu selebihnya di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Full day school sebagai monopoli peran pendidikan anak yang seharusnya diperankan keluarga masih membutuhkan waktu banyak untuk bisa menjamin bangsa yang pintar dan berkarakter.
Sudah saatnya menguatkan kembali peran keluarga dalam pendidikan karakter anak. Untuk itu maka : pertama, sudah saatnya pemerintah, dalam hal ini sekolah, bekerja sama dengan keluarga untuk memberikan pendidikan karakter bagi anak mereka. Kedua, berhubungan dengan itu, maka segera diberikan pelatihan bagi keluarga-keluarga terkait pola pendidikan karakter anak sejak masih kecil sampai dewasa. Ketiga, kondisi sosial ekonomi setiap keluarga yang miskin juga harus segera dipulihkan.
Komentar Terbaru