Semangat Merayakan Kemerdekaan Yang Nyata
oleh · Dipublikasikan · Di update


sumber foto:Docpri.
Ucapan salam kemerdekaan pun marak disampaikan lewat media sosial tanpa harus bertatap muka dengan sesama. Misalnya hanya dengan mengirimkan gambar bendera Merah Putih melalui pesan di WhatsApp, atau mengganti latar foto profil di media sosial (facebook, instagram, line dan sebagainya) dengan gambar bendera Merah Putih seolah dia merayakan kemerdekaan. Begitulah gambaran masyarakat (dunia maya) teknologi menyambut kemerdekaan bangsa ini.
Terbersit dalam ingatan penulis waktu masih kelas VI SD. Pada tahun itu (tahun 2005) di kota saya lahir belum pernah saya lihat warga yang memakai telepon pintar (smartphone). Laptop pun jarang dipakai, kecuali mereka pengusaha, dan anak kuliahan yang bila dilihat ekonomi keluarga mereka mumpuni. Bila ingin mengakses internet, mesti pergi ke warnet (warung internet). Warnet itu pun ditutup pada saat ada kegiatan perayaan kemerdekaan.
Lapangan yang dinamai (oleh pemerintah setempat) sebagai Lapangan Merdeka tempat semua pertandingan dilakukan selama dua minggu sebelum hari ulang tahun kemerdekaan. Setiap kali pertandingan diadakan, lapangan ini dipenuhi oleh penduduk dari berbagai kelurahan, bahkan dari desa-desa pun ikut menyaksikan pertandingan. Meskipun di setiap desa dan kecamatan ada perlombaan, namun sehabis perlombaan di desa/kecamatan, warga tak mau terlewati oleh pertandingan di kota.
Begitulah semangat menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di kota kelahiran saya. Sekarang telah banyak berubah. Anak-anak remaja hingga dewasa lebih senang bermain games offline maupun online dibanding pergi menonton perlombaan panjat pinang, tarik tambang, bolavoli, sepakbola, dan berbagai perlombaan lainnya. Mengirim gambar bendera dan mengucapkan salam kemerdekaan pun hanya sebentar saja dan hanya pada tanggal 17 Agustus saja. Sedangkan waktu lebih banyak digunakan untuk berselancar di berbagai situs. Kalau pun ada perlombaan seperti penulis sebut di atas, itu baru diadakan seminggu atau tiga hari sebelum tanggal 17 Agustus. Lalu, apakah itu tanda bangsa yang masih punya semangat menyambut (ulang tahun) kemerdekaan seperti dulu?
Padahal, kalau kita me-remind lagi perjuangan para pahlawan menyingkirkan kolonialisme, di sana kita akan mengerti bahwa kemerdekaan itu diperoleh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan memperoleh kemerdekaan ditebus dengan nyawa. Banyak nyawa melayang serta luka yang membekas di seluruh badan mereka yang masih bisa bertahan hidup. Sayangnya semangat perlawanan terhadap penjajah dan semangat merayakan kemenangan itulah yang lama kelamaan menyurut.
Penyurut Semangat
Seakan semangat merayakan kemerdekaan membeku di zaman yang serba canggih ini. Karena ditutupi oleh berbagai macam tawaran yang menggiurkan. Padahal posisi bangsa kita dalam globalisasi ini lebih banyak menjadi konsumen. Minim cita-cita menjadi bangsa yang produktif. Kita banyak meniru cara berpikir dari luar, dan tidak mampu menciptakan yang baru. Karena jiwa kita masih belum merdeka.
Kehilangan rasa semangat merayakan kemerdekaan juga terjadi karena kehilangan cita-cita ke depan. Sebab, sebenarnya cita-cita bangsa ini belum tercapai. Di sana-sini masih terjadi korupsi, di mana-mana terjadi kekerasan, pembunuhan, ketimpangan ekonomi, politik, serta ketimpangan sosial. Seolah-olah dalam perjalanan menuju kesejahteraan, bangsa ini kehilangan cita-cita semula.
Kehilangan semangat merayakan kemerdekaan juga karena kemudahan melakukan sesuatu melalui teknologi canggih membuat bangsa menjadi malas. Setiap orang yang ingin mengetahui perlombaan apa saja yang diselenggarakan untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan bisa ditemukan dengan telepon pintar. Melihat upacara pengibaran dan penurunan bendera melalui telepon pintar serasa sudah hadir di sana. Bahkan ketika ingin mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah pun bisa digantikan dengan membagikan foto bendera di halaman dunia maya.
Meriah di Dunia Nyata
Selama perayaan hari kemerdekaan dianggap sebagai rutinitas di dunia nyata, dan tanpa dibawa ke dunia maya (seperti media sosial), maka kebosanan akan selalu menghantui setiap insan. Semangat kaum muda yang telah dirongrong oleh kecanggihan teknologi, membuat mereka tidak mampu bersosialisasi di dunia nyata. Sedangkan di dunia maya tak terdapat nilai-nilai perjuangan kemerdekaan. Bisa dikatakan bahwa kita lupa mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan dengan berbagai elemen di dunia maya. Alangkah baik seandainya aplikasi permainan perang-perangan itu dibuat seperti sebuah permainan perang-perangan antara negara kita dengan negara penjajah. Tetapi tidak lepas dari konteks sejarah perjuangan kemerdekaan negeri ini. Bisa juga dengan mengadakan perlombaan dalam menyambut perayaan kemerdekaan di dunia maya. Setiap iklan juga harus bernuansa penyambutan hari ulang tahun kemerdekaan negara kita.
<p>Tetapi itu hanya penarik dan pengingat saja, supaya bangsa kita jangan terlena di dunia maya. Harapan adalah semoga di dunia maya dan terlebih di dunia nyata, setiap orang memiliki semangat yang tinggi. Bukan menjadi orang yang diingatkan, tetapi menjadi “alarm” bagi orang lain. Pengingat akan kebersamaan di dunia nyata lebih nasionalis dibanding di dunia maya. Sebab, bagaimana pun juga, kemeriahan perayaan kemerdekaan di dunia nyata tidak dapat ditandingi oleh kemeriahan di dunia maya.
Akhir kata penulis ingin menyampaikan bahwa bangsa yang bersemangat adalah bangsa yang mampu menggairahkan kembali semangat yang telah surut. Bangsa yang memiliki semangat tinggi adalah bangsa yang mampu bertahan menunjukkan semangatnya, meskipun banyak yang berusaha mematahkan semangatnya. Dan bangsa yang memiliki semangat tinggi adalah bangsa yang sudah memikirkan apa yang harus dipersiapkan sebelum hari perayaan. ***
Komentar Terbaru