Merayakan Pergantian Tahun dengan Perpaduan Kehidupan Cyclical dan Linear
Oleh: Paul Sinlaeloe
Salah satu kegiatan atau acara yang dipersiapkan menjelang akhir tahun adalah merayakan malam pergantian tahun atau yang sering disebut perayaan Old and New. Kumpul-kumpul dengan keluarga, kerabat atau teman untuk menikmati waktu pergantian tahun di rumah atau di tempat-tempat tertentu, seakan-akan sudah menjadi tradisi setiap akhir tahun. Menyalakan kembang api, meniup terompet, doa bersama sampai dengan makan bersama adalah aktivitas dalam menyambut tahun yang baru.
Baca juga: Seorang Ibu bersama anaknya Berjualan di Bahu Jalan Depan Bekas TPI
Perayaan pergantian waktu dari tahun yang lama ke tahun yang baru atau perayaan Old and New dilakukan sebagai momen refleksi untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik. Sebab, manusia pada dasarnya memiliki satu keinginan mendasar, yaitu yang disebut harapan. Setiap manusia akan berharap akan hidup dan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya dan tahun baru adalah titik start untuk memulainya. Namun, pertanyaannya adalah mengapa setiap orang harus menunggu momen Old and New ketika ingin berefleksi akan hidup dan kehidupan? Pada hal berefleksi akan hidup dan kehidupan, dapat dilakukan kapanpun tanpa harus menunggu perayaan pergantian waktu dari tahun yang lama ke
tahun yang baru. Apalagi pergantian waktu dari tahun yang lama ke tahun yang baru, hanya merupakan bagian kesepakatan tak tertulis terkait dengan penanggalan Gregorian.
Baca juga: TNI Harus Tetap “Lembut” di Mata Rakyat
Pemikir yang hidup di era Yunani Kuno, Parmenides (540SM-470SM), pernah berpendapat bahwa hidup ini adalah sesuatu yang cyclical. Menurut Parmenides, tidak ada yang baru di bawah kolong langit. Segala sesuatu yang ada itu tetap ada dan yang tidak ada memang tak pernah ada. Jadi yang ada tidak bisa muncul dari ketiadaan, begitu juga sebaliknya. Menghadapi hidup yang cyclical gaya Parmenides, orang cenderung mengarahkan pandangan ke masa lalu. Bagi mereka, momen Old and New adalah saat untuk menengok kebelakang dan bernostalgia dengan romatisme masa lalu. Aroma haru dan heroik menjadi cirinya.
Baca juga: Dampak Politik yang Tidak Terlupakan (Seri 1)
Dengan latar pikir yang berbeda, Herakleitos (540SM-480SM), pemikir yang lahir di Efesus, berargumen bahwa hidup adalah sesuatu yang linear. Artinya hidup itu berjalan seiring dengan perubahan waktu. Karenanya, segala sesuatu itu selalu baru. Pantha Rei Kai Uden Menei atau segala sesuatu itu berubah dan mengalir seperti sungai, serta segala sesuatu itu baru dan tidak ada yang tetap adalah adigium yang dipegang teguh oleh Herakleitos.
Pada momen Old and New ini, prinsip dan gaya hidup linear model Herakleitos telah membuat orang lebih mengarahkan pandangan ke masa depan. Ada kecenderungan untuk melihat masa depan sebagai sesuatu yang baru dan tidak
terdeterminasi oleh masa lampau. Artinya, mereka memaknai hidup ini hanya sekali dan akan lewat. Memanfaatkan waktu yang ada, merupakan sesuatu yang utama pada momen Old and New.
Idealnya hidup itu adalah sesuatu yang komplementer antara hidup yang cyclical dengan hudup yang linear. Untuk itu, momen Old and New harusnya dijadikan perpaduan antara kehidupan yang cyclical dengan kehidupan yang linear. Happy Old and New…!!!
***
Paul Sinlaeloe adalah Aktivis PIAR
Komentar Terbaru