Tempat Jajanan Malam dan Nikah Massal

Akhir-akhir ini warganet dikejutkan dengan dua fenomena yang berbau SARA di daratan Pulau Nias. Satu tentang video yang berisi upaya salah satu agama untuk menjawab masalah biaya nikah adat yang besar dengan nikah massal di Kabupaten Nias Selatan. Satunya lagi tentang isu pelarangan makanan khas nias berbahan dasar daging babi di Pusat Jajanan Malam di Kota Gunungsitoli. Dua fenomena ini yang menjadi bahan pembicaraan di ruang maya yang notabene sarat provokatif.

Penulis melihat kedua fenomena tersebut di atas sebagai wujud dari akar masalah yang sangat sulit diselesaikan. Isu yang dipelintirkan ke ranah budaya atau adat nias bukan saja tanpa alasan tunggal. Baik nikah massal yang dipertentangkan dengan budaya atau adat nias, maupun pelarangan membuka jualan makanan berbahan dasar daging babi yang dipertentangkan dengan makanan khas (budaya) nias. Keduanya memiliki akar masalah yaitu intoleransi di dunia maya.

Sayangnya konten-konten atau perdebatan-perdebatan ini telah mendidik generasi muda untuk bersikap intoleransi. Apakah media sosial (globalisasi) membawa dampak ini bagi ono niha yang dulunya hidup rukun dengan multi ras suku, agama di dalamnya? Untuk menjawab ini perlu kajian para intelektual ono niha.

Namun ada beberapa potensi toleransi di dunia nyata yang mungkin harus dijaga dan dikembangkan. Penulis beberapa hari lalu turun langsung bercerita dengan penjual di tempat jajanan malam (pusat kuliner) Kota Gunungsitoli. Selain dengan penjual, penulis juga mewawancarai beberapa orang pengunjung pusat kuliner Kota Gunungsitoli. Meskipun, penulis belum mendapatkan data resmi berapa jumlah penjual yang beragama kristen, islam dan yang beragama lainnya, namun di pusat kuliner Kota Gunungsitoli tidak hanya dikuasai oleh penjual dari agama tertentu saja. Begitu juga pengunjung, dalam satu kesempatan penulis menjumpai satu meja dengan beberapa pemuda dari berbagai agama duduk bersama.

Lantas, bagaimana tanggapan mereka terkait perdebatan di media sosial di atas? Dari beberapa penjual di pusat kuliner Kota Gunungsitoli yang penulis wawancarai tidak berkeberatan makanan khas nias yang berbahan dasar daging babi dijual di pusat Kuliner Kota Gunungsitoli. Hanya saja, mereka menyarankan agar dikhususkan tempat, atau diapit oleh penjual dari penganut agama yang sama. “boleh sih bang, asalkan dikhususkan tempat mereka, dan maunya samping kanan kirinya jangan muslim lah,” kata seorang penjual. “kayak tahun lalu itu kan udah pernah ada yang jual babi bakar di sini bang, asapnya kemana-mana, jadinya kami nggak nyaman, tapi kalau tidak panas-panas juga nanti nggak enak jawab mereka,” kata penjual lain.

Pengunjung juga sebagian besar tidak berkeberatan bila makanan khas nias yang berbahan dasar daging babi di jual di pusat jajanan malam Kota Gunungsitoli. “kalau menurut saya makanan khas nias juga harus dijual lah di sini, biar generasi muda-mudi dan pendatang baru mengetahui dan mencicipi makanan khas nias,” kata salahseorang pengunjung. Pengunjung juga berharap agar masakan yang berbahan dasar daging babi ditata sedemikian rupa, agar tidak terjadi konflik antar penjual dan atau antar pengunjung. “kalau saya ya bang, kalau teman saya makan daging babi ya saya tidak serta merta bermusuhan dengan dia. Setiap kita kan punya kepercayaan dan ajaran agama masing-masing. Kita saling hargai itu.” Kata pengunjung lainnya.

Terkait perdebatan di media sosial yang begitu ramai, sebagian besar narasumber tidak mengetahui hal itu. Bahkan mereka menganggap perbedaan suku, agama, dan ras pun tidak menjadi akar pertengkaran di tempat kerja. Terkait rekomendasi perbaikan penataan pusat kuliner Kota Gunungsitoli, penjual berharap agar pemerintah Kota Gunungsitoli memperhatikan ruang yang begitu sempit dengan memperketat mobil (besar) truk tidak melintas pada malam hari karena akan menimbulkan kemacetan. Selain itu, pengunjung juga berharap pemerintah Kota Gunungsitoli menyediakan toilet yang layak pakai.

*Untuk mendapatkan transkrip wawancara bisa menghubungi admin

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!