Rintangan Hidup Mereka yang Ditinggalkan

    Perbincangan selama ini lebih banyak membahas pelaku buruh migran yang menjadi tenaga kerja di dalam negeri sendiri maupun di luar negeri. Namun, sedikit sekali perbincangan tentang anak-anak dari pelaku buruh migran ini sendiri. Padahal, anak-anak dari pelaku buruh migran sendiri memiliki banyak cerita menyedihkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu untuk diperbincangkan dan dicarikan jalan keluarnya.

Anak-anak dari pelaku buruh migran, meskipun belum terdata dalam angka, cukup banyak jumlahnya dan rentan mengalami tindakan kekerasan. Secara keseluruhan, mereka mempunyai pengalaman kekerasan dengan beragam bentuknya, mulai dari dimaki, dimarahi, dilempar dengan benda, dipukul dengan alat, hingga ditendang. Selain tindakan kekerasan yang dialami mereka, anak-anak dari buruh migran ini juga rentan terjerumus dalam pernikahan di usia dini, penggunaan narkotika (seperti merokok), meminum minuman keras, serta berhubungan seks sebelum menikah atau masa pacaran.

    Bagi penulis semua kejadian-kejadian di atas penulis sebut sebagai rintangan hidup anak-anak dari pelaku migran. Mengapa penulis sebut demikian? Karena mereka tidak diciptakan Tuhan untuk hidup dalam keluarga tidak utuh. Mereka hidup tanpa keluarga utuh karena faktor di luar diri mereka. Dan rintangan-rintangan hidup mereka ini sebenarnya lebih mudah mereka lewati jika mereka memiliki sosok seorang ayah dan ibu.

Mungkin ada yang berkata bahwa di zaman yang terus maju sekarang ini, hampir seluruh anak-anak mengalami salah satu atau salah dua dari masalah di atas. Namun, anak-anak dari pelaku migran lebih dari itu, malah lebih banyak dari semua masalah tersebut di atas rentan mereka hadapi. Hingga saat ini pun rintangan hidup ini masih saja dialami oleh mereka anak-anak dari pelaku migran. Akibat dari ini semua, anak-anak dari pelaku migran berada pada posisi termarginal.

Hilangnya Sosok Pelindung

Hemat penulis, ini disebabkan karena hilangnya sosok pelindung bagi si anak. Sosok pelindung ini adalah ayah atau ibu kandung dari si anak. Ketika ayah dan/atau ibunya pergi merantau mencari nafkah keluarga, dan si anak tinggal sendirian bersama keluarga dekat, di sanalah si anak kehilangan sosok pelindung.

Di saat sosok pelindung ini tidak ada, maka tindakan kekerasan akan dengan mudah menyerang si anak. Sosok pelindung ini seumpama sebuah anti virus dalam personal computer. Perannya sangat penting dalam menangkal segala serangan virus. Jika pelindung PC ini tidak ada, maka PC akan mudah rusak karena serangan virus. Begitu juga dengan peran orang tua dalam melindungi anaknya. Orang tua tidak akan membiarkan tindakan kekerasan dan pengaruh dari pergaulan bebas merusak masa depan anak mereka.

    Dalam sebuah keluarga, idealnya, kedua orang tua berperan memberikan kasih sayang yang utuh selama masa pertumbuhan dan perkembangannya. Anak berada pada keluarga dimana mereka dapat merasakan peran ayah dan ibu. Mereka sejatinya berkomitmen dalam melakukan investasi abadi pada seluruh periode perkembangan dalam kelangsungan hidup anak sebagai wujud tanggung jawab pengasuhan. Sebagai pelindung, orang tua memberikan pengawasan lebih terhadap aktivitas anak di dalam dan luar rumah, mengajari dan menasehati, bahkan mampu membela tindakan anak yang benar. Galibnya, sosok pemeran ini hanya bisa didapati si anak pada orang tua kandungnya.

Meskipun dalam beberapa kejadian, anak akan dititipkan kepada pengampu yang adalah tante, om, kakek atau neneknya, namun tanggaung jawab ayah dan ibu kandung sangat berbeda kualitasnya dibanding pengampu. Malah bila pengampu berlaku kasar, anak-anak dari pelaku buruh migran ini akan menunjukkan kerinduan mereka terhadap sosok seorang ayah ataupun ibu kandung mereka. Akhirnya, anak-anak ini mempunyai relasi yang kurang intim dengan pengampunya. Padahal, dasar bagi terlaksananya peran orang tua kandung, wali atau pengampu sebagai pelindung di sini dimulai dari relasi yang intim antara satu sama lain.

Peran Orang Dewasa

    Tak jarang juga ditemui lingkungan masyarakat yang tidak ramah terhadap anak-anak dari pelaku migran. Di tempat bermain, mereka akan mengalami kekerasan maupun perundungan. Sayangnya lagi kalau orang tua dari teman mereka bermain tidak bersikap adil, atau orang tua dari teman mereka bermain selalu membela anaknya dan mereka selalu disalahkan. Keadaan seperti inilah yang membuat anak-anak dari pelaku migran akan rentan mengalami kekerasan. Padahal Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 13 menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, mendapat perlindungan dari perlakuan (a) diskriminasi, (b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, (c) penelantaran, (d) kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, (e) ketidakadilan, dan (f) perlakuan keliru lainnya.

Idealnya, baik anak-anak dari pelaku buruh migran maupun anak-anak dari bukan pelaku buruh migran, sama posisi kedudukannya di tengah-tengah masyarakat, maupun Negara. Negara dan masyarakat haruslah menjamin terpenuhinya kebutuhan setiap anak, seperti kebutuhan akan perlindungan, kebutuhan pokok, cita-cita dan lain sebagainya. Sehingga setiap anak tidak mengalami ketidakadilan social, politik, dan hukum, melainkan terciptanya anak yang sejahtera hidupnya.

    Anak-anak dari pelaku buruh migran saat ini masih hidup bersama para pengampu mereka. Mereka ditinggalkan karena banyak faktor, seperti kurangnya lapangan kerja, gaji yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, kurang keterampilan untuk mengolah lahan kering, dan didukung oleh faktor perceraian. Pengampu yang adalah keluarga dekat pelaku migran kurang mampu melengkapi kebutuhan tanpa bantuan dari orang-orang dewasa di lingkungan si anak bermain. Oleh karena itu, sudah seharusnya semua orang dewasa di lingkungan mereka bermain mengambil peran sebagai pelindung bagi mereka. Sebab, peran orang dewasa dalam lingkungan tempat bermain, sekolah, dan masyarkat sangat penting di sini yakni sebagai tempat mereka berlindung dan sebagai sosok yang akan ditiru.***

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!