Republik Konten
oleh ·

- <p>Oleh: Made Supriatma</p> <p>Pernikahan seorang pesohor media sosial dihadiri oleh presiden dan para politisi papan atas. Tidak itu saja, sang Presiden, bersama rival di Pilpres namun sekarang jadi bala-nya, bahkan menjadi saksi pernikahannya. </p> <p>Televisi Indonesia menyiarkan pernikahan ini secara langsung. Koran dan tabloid menjadikannya konsumsi berita utama. Diskusi dan bantah-bantahan online juga tidak kurang seru. Adakah yang baru dari pernikahan ini? Tentu ada. Yang menikah bukan ningrat. Ini bukan royal wedding. Namun perlakuan yang diterima oleh mempelai sederajat dengan royal wedding. Mereka diperlakukan persis seperti aristokrasi. </p> <p>Banyak yang mempertanyakan, mengapa seorang presiden dan juga politisi-politisi papan atas kelihatan berlomba-lomba untuk tampak di pernikahan ini? Untuk saya jawabannya gampang: Popularitas. Yang menikah adalah seorang Youtuber kondang dengan 21 juta followers. Yang diperistri adalah anak seorang artis yang keluarganya memiliki bobot gossip "Platinum." Apa saja pergolakan dalam keluarganya menjadi konsumsi publik yang haus berdebat dan haus menghakimi.</p> <p>Dua-puluh-satu-juta followers Youtube adalah magnet. Para politisi, dari yang kardus maupun yang papan atas, pasti menetes liurnya demi melihat angka-angka itu. </p> <p>Tidak itu saja, seperti yang Anda lihat dibawah ini, 21 juta itu dianggap mampu menggerakkan ekonomi nasional. Ya, dia dianggap pahlawan dari apa yang dinamakan sebagai "ekonomi kreatif." </p> <p>Kita tahu, ekonomi adalah soal produksi dan pertukaran. Artinya, ada yang berproduksi untuk dipertukarkan. </p> <p>Lalu apa yang diproduksi oleh sang Youtuber kita ini? Dia tidak memproduksi apapun. Dia tidak memproduksi sesuatu yang segera bisa mengenyangkan perut. Dia tidak memproduksi benda yang menyamankan pantat. Dia tidak memproduksi sesuatu yang bisa memanjangkan alat vital lelaki, misalnya, seperti yang sering kita lihat di iklan-iklan. </p> <p>Dia memproduksi konten. Dia memproduksi citra atau image. Dia menyasar imajinasi kita. Mempersempit perspektif kita selebar layar hape. Dalam medan permainan sesempit itu dia memainkan bayangan kita tentang dunia dan mengajak kita untuk hidup didalam gelembung itu.<br /> Kita masuk ke dalam gelembung dunia ciptaannya. Merasa nyaman didalamnya. Terkagum, marah, jengkel, bahkan mungkin ngaceng atau basah karena konten-konten itu. </p> <p>Itulah dunia imajiner yang kita hidupi saat ini. Dunia sempit yang kita bayangkan sebagai sangat luas dan tak terbatas. Dunia yang tidak kita tidak tahu dimana ujungnya. Karena yang dimainkan adalah imajinasi kita. </p> <p>Itulah ideologi kita sekarang ini. Termasuk ideologi ekonomi dan politik kita. Organisasi bisnis dan pemerintah menyebutnya sebagai industri kreatif. Sekalipun ia bersifat immaterial. </p> <p>Masalahnya adalah yang kreatif dan yang memproduksi hal-hal yang material itu adalah orang lain. Mereka dengan kreatif menciptakan untuk kita. Bayangkan batik yang bagus dengan gaya etnik yang di produksi di Ghuangzhou cukup murah untuk dijangkau kantong kaum sengsara? Menanam padi dengan panen beras impor dari Thailand?</p> <p>Para elit kita dengan bangga dan rajin memproduksi image ini untuk kita. Mereka sibuk membangun Republik Konten ini. </p> <p>Apakah generasi muda kita memang hidup dalam konten? Sayangnya tidak. Saya melihat banyak sekali anak muda yang benar-benar kreatif dan inovatif menciptakan ekonominya sendiri.<br /> Kemarin saya berjumpa dengan anak umur 18 tahun yang sangat ahli dalam perkopian. Sebelumnya saya ketemu dengan anak muda pendiam yang memproduksi aneka ragam jamur beserta produk turunannya. Mereka memproduksi benda bukan imajinasi. </p> <p>Di Republik Konten ini, Sodara akan sering melihat permainan imajinasi. Jangan heran bahwa bencana pun akan menjadi konten. Itulah Republik kita sekarang ini. Yang tentu saja berbeda dengan Republik hasil revolusi 1945.</p>
Komentar Terbaru