Saya Ingin Menjadi Seorang Dokter

Saya Ingin Menjadi Dokter

Saya Ingin Menjadi Seorang Dokter

Saya ingin jadi dokter karena saya ‘dokter cilik’ di sekolah," kata Irna (9), siswi kelas 4 SD Negeri Tabene, Desa Uma Katahan, saat ditemui di rumah.


Hari itu, Irna tidak masuk sekolah. Dia masih sedih karena ayahnya telah meninggalkannya lagi untuk bekerja sehari sebelumnya. Seperti kebanyakan pemuda produktif lainnya dari Kabupaten Malaka, ayah Irna, Francis Nahak, adalah orang yang akhirnya meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan. Ini adalah kedua kalinya Francis meninggalkan desanya. Sebelumnya, ia sudah pergi bekerja saat Irna masih dalam kandungan ibunya selama dua bulan. Ia baru kembali pada Desember 2018, dan ini pertama kalinya Irna bertemu dengan ayahnya. Ibu Irna, Oktaviana Abuk, juga meninggalkan rumah pada Juli 2018 untuk bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit.

Meski kedua orang tuanya telah meninggalkannya untuk bekerja, Irna menjawab pasti bahwa dia ingin menjadi dokter ketika ditanya tentang mimpinya. Ada dua alasan Irna ingin menjadi dokter. Pertama, sebagai Dokter Kecil di sekolah, setiap hari Jumat Irna dan kesembilan temannya mempraktekkan cara mencuci tangan yang benar menggunakan sabun, dan juga belajar menggosok gigi yang benar dan menunjukkannya kepada semua temannya. Anak-anak harus sehat, Dokter Kecil harus aktif mengajar teman-temannya.


Baca juga: Kamanasa: Negeri Putri Tertawa



Kedua, Irna ingin bisa mengobati neneknya, Agnes Hoar Seran, atau yang lebih sering ia panggil Mama Nes yang sedang sakit. Dia memanggilnya ‘Mama’ karena Irna paling sering tinggal bersama Mama Nes, sejak dia masih bayi. Mama Nes sering menceritakan bagaimana dia jatuh sakit pada tahun 2010 dan harus menjalani operasi di Jakarta. Bahkan pada tahun 2018, Mama Nes mengalami serangan jantung di sekolah. Pengalaman Irna bersama Mama Nes begitu berkesan sehingga ia berhasrat menjadi seorang dokter. Irna ingin Mama Nes tetap sehat dan panjang umur.



"Ya, saya bercerita tentang bagaimana dokter membantu saya di rumah sakit setelah teman saya memberi saya pertolongan pertama untuk penyakit jantung," kata Mama Nes. Orang yang memperjuangkan hidup orang lain adalah dokter, dan Irna terinspirasi untuk menjadi orang seperti itu.

Anak Sawah

Tinggal di sekitar persawahan, Irna dan teman-temannya punya banyak waktu untuk bermain sepulang sekolah. Sore itu, mereka berjalan bergandengan tangan membawa jaring dan ember ke sawah. Kedua alat ini penting untuk menangkap hewan kecil, seperti ikan atau kepiting.

Tempat favorit mereka adalah saluran irigasi selebar lima meter, yang terletak di dekat pintu air. Di tempat ini, mereka biasa berendam bersama dan bermain di pusaran aliran air, yang berasal dari aliran air dari pintu air sebelah kanan.

Irna sang dokter cilik


Irna sang dokter cilik



Meskipun anak-anak bebas bermain, orang dewasa selalu ada untuk mengawasi mereka, terutama saat hujan turun. Biasanya, saat hujan usai, air berubah warna menjadi coklat, dan aliran air semakin deras. Saat hujan turun, anak-anak tidak boleh lagi mandi tanpa pengawasan. Ini bukan hanya soal air, tapi, karena terkadang ada buaya yang juga tersesat di sawah.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika anak-anak bisa aktif bersama orang tuanya, ketika mereka turun ke sawah dan saluran irigasi bersama untuk menangkap ikan air tawar dan kepiting. Anak-anak tentu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menemani orang tuanya ke aliran air.


Baca juga: Masyarakat Maukatar di Desa Lakekun Utara

Saat itu, di sore yang sangat panas, kami mengunjungi saluran irigasi. Irna ingin turun ke sungai. Godaan berendam di sungai sangat sulit untuk dilawan. Tak lama kemudian, kelompok anak-anak ini sudah berada di dalam aliran air. Aliran kecil berbelok seperti jet coaster yang mendorong mereka untuk berputar. Irna dan teman-temannya berbalik sambil menangkap kepiting kecil. Kegembiraan semacam ini membantu Irna sejenak melupakan kesedihan karena ditinggal ayah dan ibunya yang meninggalkannya untuk bekerja.

Sehari sebelumnya di rumah Irna, Seli yang dianggap sebagai kakak perempuan oleh Irna sudah siap memasak kepiting dan ikan menjadi santapan lezat malam itu. Setelah makan malam, mereka menonton televisi. Kemudian, mereka bergegas ke kamar mereka sendiri untuk tidur. Irna sedang tidur dengan Mama Nes.

Malam itu Irna mengigau. Dalam keheningan malam, sekitar pukul sebelas malam, terdengar suara lembut dari dalam ruangan, "Ayah, jangan pergi! Teman-temanku akan menggertakku karena aku tidak punya ayah." Ya, ingatan ayahnya yang baru saja meninggalkannya sore itu terbawa ke alam bawah sadar Irna, tentu saja Irna tidak sendirian, banyak anak dari desa yang orang tuanya pergi ke luar negeri atau ke pulau lain untuk mencari uang.

 

Sumur di Desa

Pagi-pagi sebelum ayam berkokok, Mama Nes sudah bangun dan menyetrika seragam PNS serta seragam sekolah Irna dan Seli. Kemudian, semua anggota keluarga bangun dan langsung memulai aktivitasnya masing-masing.


Pak Nadus, suami Mama Nes, memberi makan burung merpati yang dipelihara keluarga di halaman depan. Seli sedang mencuci piring, sedangkan Irna sedang duduk di depan rumah sambil memakan biskuit yang dibelinya tadi malam.


Baca juga: Bentrokan Antar Warga, Remaja dan Polisi Terkena Anak Panah

Usai menikmati biskuit, Irna membantu Seli menyiapkan teh dan pergi membeli ‘kue ramas’ untuk sarapan seluruh anggota keluarga. Irna berjalan pelan dan tenang sambil membawa dulang (nampan kayu yang ujungnya biasanya berbibir dan berkaki) berisi enam gelas teh hangat dan kue. Gadis kecil ini terlihat percaya diri menunjukkan bahwa dia sudah terbiasa melakukannya dan tidak canggung.

Di Desa Uma Katahan atau bahkan di Kabupaten Malaka pada umumnya, kata ‘keluarga’ tidak berarti hubungan hanya mengacu pada keluarga inti.

Tetapi ‘keluarga’ juga mengacu pada arti keluarga atau klan yang lebih besar. Jadi, Irna saat ini tinggal bersama keluarga besarnya di Desa Uma Katahan yang berarti ‘Rumah Daun’ dalam bahasa Tetun.

Irna tinggal di Dusun Tabene yang merupakan dusun yang subur. Sejauh mata memandang, ada ladang pertanian yang luas. Selain padi, tanah ini juga cocok untuk ditanami jagung, pisang, ubi jalar, dan kacang hijau. Dusun ini juga kaya akan air. Maka tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu kawasan ‘lumbung’ di Kabupaten Malaka.



Di Desa Uma Katahan, masyarakat tidak kesulitan untuk menggali sumber air atau sumur. Mereka hanya perlu menggali tanah sedalam tiga sampai empat meter untuk mendapatkan air. Sumur adalah sumber air utama untuk berkebun, mandi, minum, memasak, dan mencuci.



Sayangnya, meski air melimpah, kualitas air bersih masih menjadi masalah. Saat yang paling sulit untuk mengakses air bersih sebenarnya pada musim hujan; karena lumpur larut dalam air, menjadikannya keruh. Air keruh ini juga dengan cepat menyebabkan banjir skala kecil.

Kualitas air turun drastis saat hujan. Sehingga meski memiliki banyak mata air, kualitas airnya tergolong di bawah rata-rata. Misalnya, air minum harus tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Namun, hal ini tidak ditemui saat hujan terus menerus. Air sumur akan berubah warna menjadi coklat dan berbau.

Bagi penduduk desa Uma Katahan, tidak ada pilihan air lainnya. Kebersihan juga merupakan masalah yang meluas. Terkadang anak jarang mandi atau bahkan mandi tanpa menggunakan sabun, atau terkadang hanya membilas tubuhnya dengan air kotor. Akibatnya, anak akan mudah terkena penyakit kulit dan diare. Bahkan ‘sakit perut ringan’ juga merupakan keluhan paling umum baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Masalah sanitasi juga menjadi hal yang masih harus
diselesaikan.

Angin Segar untuk Anak-anak

Menyadari perlunya terobosan lebih lanjut dalam jangka panjang untuk mengatasi air keruh di musim hujan, ChildFund juga terlibat dalam merenovasi sejumlah sumur yang tidak memiliki cincin atau dinding sumur. Biasanya saat hujan turun, lumpur masuk ke dalam sumur dan air menjadi keruh. Namun bagian pinggir sumur sudah ditinggikan, dan di sekeliling sumur dilapisi semen agar air keruh tidak mudah meresap.

Di Dusun Tabene, ada empat sumur yang direnovasi pada tahun 2018. Pentingnya penyediaan pembatas sumur tidak hanya menyangkut pencemaran air yang terjadi baik pada musim hujan maupun pembuangan limbah cucian warga di sekitar sumur, tetapi juga menyangkut keselamatan anak-anak.


Baca juga: Dua Anak Terkena Serpihan Tembakan

Sedikitnya ada 43 balita di Dusun Tabene yang rentan sakit jika terus menerus terkena air kotor. Di penghujung tahun 2018, ada dua anak yang sakit perut karena meminum air mentah langsung dari sumur. Bahkan, Irna pun tak luput dari penyakit kulit akibat air yang kotor. Kulitnya menjadi merah karena digaruk setelah mandi. Dia juga tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Sehingga Pak Nadus proaktif memerciki air tersebut dengan bedak penjernih agar Irna bisa mandi dengan aman di air mandi tersebut. Kemudian, gejala gatal-gatal di tubuhnya berangsur-angsur hilang.

Serbuk penjernih air ini diperoleh dari ChildFund bekerjasama dengan P&G yang digagas oleh Program Children’s Safe Drink Water (CSDW) sejak akhir tahun 2015 hingga akhir tahun 2018. Program ini secara khusus bertujuan untuk menyediakan air minum bersih bagi anak-anak dan keluarga. yang kesulitan mengakses air bersih. Bubuk penjernih air sangat mudah digunakan dan dapat membersihkan sepuluh liter air hanya dalam waktu 30 menit. Dalam prakteknya, penjernih air tidak hanya digunakan untuk air minum, tetapi juga untuk mandi, terutama bagi mereka yang terkena penyakit kulit.

Dokter Kecil

Program ChildFund International tidak hanya menyasar warga desa, tetapi juga menyasar sekolah-sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri Tabene. ChildFund membangun fasilitas cuci tangan dan membangun saluran air bersih. Sedangkan untuk guru, ChildFund memberikan pelatihan tentang kebersihan sekolah di Atambua.


Sedangkan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara khusus menyasar anak-anak. Jika dulu banyak siswa yang bolos karena sakit, kini jumlahnya berkurang. Hal ini terjadi karena banyak siswa yang semakin sadar akan pentingnya kebiasaan hidup bersih. Mereka tidak hanya diajarkan di dalam kelas, atau di rumah bersama keluarga, tetapi juga mencontoh dari teman sebaya yang berperan sebagai ‘Dokter Kecil’.

“Saat ini, ada sepuluh Dokter Kecil dari kelas 4, 5, dan 6. Salah satunya adalah Irna. Dia adalah siswa yang proaktif dan cerdas, juga, dia bisa langsung mengerti ketika dijelaskan sesuatu yang baru,” kata Ny. Selfiana Luruk Seran saat kami bertemu dengannya di sekolah. Selfiana adalah seorang guru yang merupakan anak-anak muda yang pergi bekerja ke luar desa, entah ke Malaysia atau ke Kalimantan (Indonesia) adalah kisah umum desa-desa di Kabupaten Malaka.



Walaupun anak-anak yang ditinggalkan adalah hal biasa, namun di sini nasib anak-anak tersebut tidak celaka karena mereka tetap mendapat dukungan dari keluarga besar dan marga yang lebih luas, kapanpun dibutuhkan.

Anak adalah harapan orang tuanya. Mereka berharap nasib bisa berubah, jika mereka punya cukup uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Harapan itu hidup dalam diri Irna, Dokter Kecil.

Memang Pak Nadus dan Mama Nes juga bertanggung jawab atas Dokter Kecil di sekolah
.

Meski Irna masih sedih karena ditinggal bekerja orang tuanya, ia tetap rajin belajar dan bercita-cita menjadi dokter. Kisah orang tua yang meninggalkan anaknya untuk bekerja dan selalu siap mengawal dan menemani tumbuh kembang Irna. Orang tua Irna selalu mengirimkan uang melalui Mama Nes. Bantal berbentuk hati, ikat kepala merah muda, dan bahkan tas sekolah yang dikirim menunjukkan cinta orang tuanya yang jauh darinya secara fisik, tetapi selalu bersamanya dalam semangat.

Saat Irna memimpin dan menjadi Dokter Kecil di sekolah, dia mengenakan rompi merah, dengan ekspresi serius di wajahnya. Lihat terlihat seperti dokter sungguhan.

Sungguh mimpi yang berani dan mulia. Saya yakin kedua orang tuanya akan bangga dan tersenyum jika melihat Dokter Kecil mereka.

Feature ini ditulis Oleh: Prischa MaylietaRatu Kore

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!