Uluran Tangan dan Doa Menghadapi Bencana di NTT

“Terimakasih kepada para aktivis dan mahasiswa di gunungsitoli yang tergabung dalam GMKI menjembatani solidaritas warga kota gunungsitoli untuk menolong saudara kita yang mengalami bencana alam di NTT”

Mendengar kejadian bencana alam di berbagai desa, kecamatan, ibukota kabupaten, serta ibukota provinsi NTT menarik perhatian seluruh warga dari sabang sampai merauke bahkan negara lain. Ada warga yang menyumbangkan kebutuhan pokok berupa beras, pakaian, sabun, dan lain sebagainya. Ada pula yang memberikan sumbangan dalam bentuk uang. Berbagai lembaga, organisasi, bahkan komunitas-komunitas kecil sekalipun tergerak melakukan aksi solidaritas membangun posko-posko di setiap titik-titik lokasi bencana.

Keringanan tangan untuk menolong sesama seperti ini harus tetap dipertahankan di tengah-tengah perkembangan zaman yang menggiring kita menjadi individualis atau memikirkan diri sendiri. Salah satu contoh buruk dari individualisme sebagai dampak buruk dari perkembangan zaman adalah korupsi. Kita tidak boleh menutup mata dan mulut bagaimana oknum-oknum tertentu, bahkan di tengah musibah bencana pandemi covid-19, masih saja tega meraup uang rakyat dengan tindakan korupsi bansos penanggulangan pandemi ini. Individualisme seperti ini telah medregadasi nilai-nilai manusiawi, nilai-nilai pancasila, ajaran-ajaran agama.

Dalam situasi bencana sangat disayangkan bila ada oknum tertentu memikirkan dirinya sendiri. Atau bahkan oknum tersebut mengambil untung dari fenomena bencana tersebut. Untuk mengantisipasi hal itu terjadi, para aktivis yang berada di NTT mendirikan posko-posko untuk memantau harga barang di masa darurat bencana. Mereka juga menyarankan agar pemerintah setempat turut memperketat dalam pemantauan harga barang di NTT pada masa pasca bencana.

Aktivis HAM, Dominggus Elcid Li, menanggapi kenaikan harga BBM yang tidak wajar pasca bencana. Elcid mengemukakan di masa bencana BBM langka karena pasokan terhambat, rantai nilai (value chain) jangan diperpanjang. Ditegaskannya para penimbun perlu ditangkap karena ini aktivitas kriminal. Menurut dia, kenaikan BBM secara lokal akan memicu kenaikan harga barang lain di lokasi bencana, pemerintah wajib menjaga stabilitas harga.

Beberapa warga yang ditemui media ini maupun melihat postingan melalui media sosial mereka menyampaikan kalau bensin eceran sehari setelah bencana mengalami kenaikan secara tak wajar satu botol Rp 20.000. Karena itu, mereka meminta untuk ketat terhadap SPBU. Tidak melayani pembelian jerigen berlebihan kecuali untuk kepentingan genzet[1].

Dampak Siklon Tropis Seroja

Per tanggal 08 April 2021 pukul 23.00 WIB, jumlah jiwa yang meninggal dunia karena bencana ini adalah 154 Jiwa, yang mengalami luka-luka ada 147 orang, 55 orang yang hilang, dan 10.788 orang mengungsi. Kerugian materil dampak bencana ini yakni ada sebanyak 8.911 rumah terdampak. Ada 3.895 rumah rusak ringan, 227 rumah rusak sedang, dan 1.397 rumah rusak berat. Fasilitas umum yang terdampak yakni 115 fasilitas umum terdampak, 24 fasilitas umum rusak berat, fasilitas umum yang rusak umum masih dalam pendataan.

Untuk data orang yang meninggal dunia, setelah diupdate, ada 163 orang yang meninggal dunia dan 45 orang masih dalam pencarian. Data tersebut diungkapkan Presiden Joko Widodo saat mendatangi lokasi bencana banjir di Desa Makaka, Kabupaten Lembata, NTT, pada jumat (9/4/2021)[2]. Siklon Tropis Seroja menyebabkan bencana angin kencang, tanah longsor, banjir dan gelombang pasang di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!