Seorang Ibu bersama anaknya Berjualan di Bahu Jalan Depan Bekas TPI

Ibu bersama anaknya berjualan


Seorang Ibu bersama anaknya Berjualan di Bahu Jalan Depan Bekas TPI



Gunungsitoli
, DuniaKuTulis,- Seorang ibu (S) berusia 41 tahun bersama anaknya berumur 3 tahun berjualan di bahu jalan. S berjualan tepat di depan bekas Tempat Penjualan Ikan (TPI) dan Tempat warga menjual sayur dan buah-buahan di Kota Gunungsitoli. Terlihat lokasi tersebut saat ini sedang dibersihkan dan ditata oleh pihak Pemerintah Kota Gunungsitoli.

Baca juga: Data Kasus Kekerasan pada Anak di 2021 Mencapai 12 ribu Lebih

Saat dikunjungi jurnalis warga, DuniaKuTulis, S sedang memegang sebuah payung di bawah panas terik matahari (Selasa, 28/12/21). Anaknya laki-laki sedang duduk rapat di sampingnya sambil mengayunkan daun ubi yang terlepas dari ikatan. Anaknya terlihat sedikit buncit, bahu sedikit terangkat, lengan terlihat kurus serta kulit bercak hitam seperti bekas penyakit kulit. S menjawab seluruh pertanyaan jurnalis dengan suara serak.

Baca juga: Bentrokan Antar Warga, Remaja dan Polisi Terkena Anak Panah

S telah berjualan selama kurang lebih satu bulan di tempat tersebut. Dia memilih tempat tersebut karena merasa akan banyak pembeli berkunjung. “saya sudah berjualan di sini kurang lebih selama satu bulan,” kata S.

S memiliki dua anak dan seorang suami. Anak pertama berumur 5 tahun, dan satunya lagi yang sedang bersamanya berjualan di Kota Gunungsitoli. S mengaku anaknya pertama saat ini sedang sakit di rumah. “… ada dua, satu yang ini, dan satunya lagi di rumah. Anak pertama umur 5 tahun, dia sekarang lagi sakit di rumah,” ucap S.


Penghasilan S dari hasil jualan tersebut, bisa mencapai Rp 100.000 per hari. Kadang ada warga yang berbelanja memberikan uang lebih. Namun, S mengatakan setengahnya habis di ongkos pulang dan pergi dari rumah ke kota. “saya dari Desa Hilimbowo Olora … dari sana naik becak bawa barang dagangan saya ini. Ongkos becak pulang-pergi Rp 50.000, … kami tidak memiliki kendaraan makanya terpaksa menggunakan becak saja,” kata S.

Baca juga: Bunuh Anak Sendiri saat Pilkada, Apa Hubungannya?

S memiliki seorang suami yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai pemanjat kelapa. Dia mengaku penghasilan suaminya tidak menetap setiap hari, kadang hanya Rp 20.000, kadang juga Rp 40.000. “…ada, suami saya kerjanya memanjat kelapa, kadang gaji hanya Rp 20.000 kadang juga Rp40.000,” jawab S.


Selama S berjualan di tempat tersebut, dia sering disuruh oleh orang berseragam untuk tidak berjualan di tempat dia berjualan sekarang. “…pernah, bahkan sering, kemarin saja mereka suruh saya agar pindah tempat. Tapi saya bilang ke mereka, tunggu dulu jualan saya laku.” Tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

error: Content is protected !!