Membunyikan data Produksi Sarjana dan Pengangguran di Kota Gunungsitoli
oleh · Dipublikasikan · Di update

baca juga: Berdamai dengan Pekerjaan yang Tidak Sesuai dengan Bidang Studi
Rektor IKIP Gunungsitoli, Drs. Desman Telaumbanua, M.Pd, mengatakan IKIP Gunungsitoli telah menghasilkan sebanyak 7.403 orang dengan rincian: sarjana muda: 442 orang diploma tiga (ahli madya): 451 orang dan sarjana pendidikan 6.510 orang[2]. Tentunya para sarjana yang berjumlah 7.403 orang tersebut tidak seluruhnya berdomisili tetap di Kota Gunungsitoli. IKIP merupakan perguruan tinggi yang mana para mahasiswa/mahasiswinya bukan saja warga kota Gunungsitoli melainkan dari berbagai daerah kabupaten lain. Artinya, para tamatan dari IKIP akan tersebar di berbagai daerah daratan pulau Nias atau merantau ke luar daerah daratan pulau Nias.
Begitu pula para sarjana saat ini yang berada di kota Gunungsitoli, baik yang sudah bekerja maupun yang belum bekerja, tidak seluruhnya berasal dari tamatan IKIP dan Institusi pendidikan lain di Kota Gunungsitoli. Tidak bisa dipungkiri keinginan pemuda/pemudi ono niha memilih kuliah di luar daratan pulau nias. Artinya, data jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan sarjana di kota gunungsitoli berasal dari berbagai institusi pendidikan, baik itu institusi pendidikan dalam pulau maupun luar pulau.
Melihat data statistik 2020 (terbit 2021)[3] Kota Gunungsitoli, angka pengangguran masih terlihat cukup memprihatinkan. Angka pengangguran di kota ini yakni sebanyak 3.791 orang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1.744 orang, dan perempuan sebanyak 2.074 orang. Bila dilihat dari jumlah per tingkat pendidikan maka tamatan sarjana ada 609 orang sarjana yang masih berstatus pengangguran terbuka. Bila ditambahkan dengan para sarjana baru dari IKIP maka ada sekitar 937 sarja berstatus pengangguran terbuka. Para sarjana baru 8.991 orang sarjana yang terserap dalam dunia lapangan kerja di Kota Gunungsitoli. Tingkat pendidikan yang paling banyak terserap dalam lapangan kerja di Kota Gunungsitoli adalah tingkat pendidikan Sekolah Dasar, dengan jumlah 19.504 angkatan kerja.
Angkatan kerja di Kota Gunungsitoli saat ini, menurut data statistik, terserap di tiga klaster lapangan kerja. Klaster pertama yaitu lapangan kerja bidang pertanian, perikanan, kehutanan, perburuan. Klaster kedua yaitu lapangan kerja pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, dan air. Klaster ketiga yaitu lapangan kerja perdagangan besar, eceran, rumah makan, hotel, angkutan, pergudangan, komunikasi, Keuangan, Asuransi, Usaha Penyewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa.
Bila kita melihat data statistik, lapangan kerja yang paling banyak menyerap angkatan kerja adalah di klaster ketiga yakni di lapangan kerja perdagangan besar, eceran, rumah makan, hotel, angkutan, pergudangan, komunikasi, Keuangan, Asuransi, Usaha Penyewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa. Jumlah berdasarkan jenis kelamin yakni: laki-laki sebanyak 18.400 orang pekerja, dan perempuan sebanyak 13.687 orang pekerja. Klaster satu yang lebih dekat dengan pemanfaatan potensi alam adalah paling sedikit menyerap tenaga kerja. Artinya, pekerja dan yang sedang mencari kerja lebih memilih bekerja di toko, rumah makan, hotel, dan di klaster ketiga lainnya dibanding bekerja sebagai petani, nelayan, atau pekerjaan sejenisnya. Lalu, apakah lapangan kerja yang sudah tersedia saat ini sesuai dengan bidang keilmuan para sarjana yang ada? Apakah para tenaga kerja lulusan sarjana di kota ini sudah merasa bekerja sesuai dengan jurusan yang dipelajarinya di bangku kuliah? Apakah institusi-institusi pendidikan yang ada di kota ini mempersiapkan para sarjana untuk berkarya mewujudnyatakan ilmu pengetahuan demi pembangunan?
Tidak bisa disangkal, kebanggaan institusi pendidikan bila sarjana yang diproduksinya terserap dalam dunia kerja yang sesuai bidang keilmuannya. Terlebih sarjana itu sendiri, tentu mengharapkan agar ilmu pengetahuan yang diterimanya di bangku kuliah dibutuhkan di lapangan kerja yang ada. IKIP dan beberapa institusi pendidikan lainnya yang berada di wilayah Kota Gunungsitoli tentu mengharapkan produksi sarjana diserap setidaknya di lingkungan mereka berada. Ini Pekerjaan Rumah bagi kita semua, mencari solusi bagaimana mesinkronkan dunia pendidikan dan dunia pekerjaan di kota gunungsitoli tanpa mengorbankan esensi satu sama lain.
Komentar Terbaru